Search

Harga Emas Turun Terus, What Should We Do? - CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Sentimen terhadap logam mulia emas cenderung bullish untuk pekan ini. Namun sampai kemarin, Selasa (23/3/2021) harga si logam kuning belum menunjukkan pergerakan yang berarti.

Baik sentimen dan partisipasi dalam survei emas mingguan meningkat di kalangan investor ritel. Minggu lau ada 1698 suara yang berhasil dikumpulkan dalam survei online. Di antara mereka, ada 1.101 atau 65%, mengatakan mereka bullish pada emas minggu ini.


Sebanyak 355 peserta lainnya atau 21%, mengatakan mereka bearish. Sementara itu 242 responden sisanya atau 14% cenderung netral pada logam mulia.

Pada perdagangan kemarin, harga emas di arena pasar spot turun 0,1% ke US$ 1.736,2/troy ons. Sejak akhir bulan Februari harga emas cenderung berada di bawah level psikologis US$ 1.750/troy ons.

Nah, Harga emas pada di awal 2021 ini dilihat sebagai peluang investasi jangka panjang yang menguntungkan oleh beberapa analis.

Penurunan harga emas ini dapat dimanfaatkan bagi investor untuk melakukan pembelian di harga murah.

"Untuk investasi jangka panjang, emas masih prospektif mengingat harga emas bisa sewaktu-waktu menguat kembali karena gejolak atau krisis ekonomi global," kata Ariston Tjendra, Analis Emas dari Monex Investindo dalam risetnya dikutip Rabu (24/3/2021).

Menurutnya, ke depan gejolak atau krisis ekonomi global akan muncul kembali. Negara-negara dunia di masa pandemi ini banyak berhutang untuk menahan penurunan ekonomi dan membantu pemulihan, hal ini dinilai bisa menjadi bom waktu ke depan.

"Di masa konsolidasi ini, pelaku pasar bisa wait and see terlebih dahulu memonitor perkembangan ekonomi global. Atau bisa juga mengakumulasi emas secara periodik dalam jumlah kecil," ujarnya.

Ariston menjelaskan, penurunan harga emas saat ini terkait dengan kenaikan yield atau tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS terutama tenor jangka panjang dan prospek pemulihan ekonomi global.

Analis AXA Rifan Financindo, M Barkah berpendapat secara jangka pendek, harga emas masih berada dalam trend bearish dan berpotensi untuk kembali turun di bawah US$1700 per troy ounce.

"Kondisi ini dapat dimanfaatkan bagi para investor untuk melakukan pembelian di harga murah. Namun jika terlanjur melakukan pembelian, maka tidak perlu khawatir karena prospek emas dalam jangka panjang masih akan naik," kata dia.

Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko sempat mengatakan emas sebagai salah satu instrumen investasi jangka panjang. "Di tengah koreksi harga emas seperti saat ini adalah kesempatan bagi masyarakat untuk membeli. Sifat emas yang safe haven juga menjadi faktor yang menguntungkan untuk investasi jangka panjang," kata Kunto.

Menurut Kunto, saat ini terdapat banyak alternatif investasi emas untuk masyarakat. Antam sendiri memiliki divesifikasi produk Logam Mulia yang bisa dijadikan pilihan investasi.

"Selain emas batangan standar dengan pecahan terkecil 0,5 gram, Antam juga memiliki pilihan produk investasi emas lainnya seperti gift series dan depositori emas yang disebut BRANKAS," paparnya.

Kunto juga menjabarkan tips bagi masyarakat yang ingin mulai melakukan investasi logam mulia. "Pilih produsen yang sudah jelas kualitas produk dan kredibilitasnya. Misalnya ketika membeli produk Antam, lakukan melalui saluran resmi yang disediakan perusahaan. Antam senantiasa menjamin keamanan transaksi, keaslian dan kualitas produk logam mulia yang dilakukan melalui sistem daring dan jaringan butik Logam Mulia yang tersebar di 11 kota besar di Indonesia," jelas Kunto.

"Pastikan bahwa transaksi yang dilakukan terlindungi dan dan jangan mudah tergiur dengan harga murah."


[Gambas:Video CNBC]

(dru)

Let's block ads! (Why?)



"harga" - Google Berita
March 24, 2021 at 06:09AM
https://ift.tt/3rgQ1qw

Harga Emas Turun Terus, What Should We Do? - CNBC Indonesia
"harga" - Google Berita
https://ift.tt/2JQM9Kf
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Harga Emas Turun Terus, What Should We Do? - CNBC Indonesia"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.